JENIS-JENIS MAKNA KATA, ISTILAH, IDIOM DAN PERIBAHASA
JENIS-JENIS MAKNA KATA, ISTILAH, IDIOM DAN PERIBAHASA
Suleman D Kadir,
Vira Nurwaty Arbangka
sulemand.kadir@gmail.com
A.
Latar Belakang
Bahasa Arab jika ditinjau dari suatu
genetis bahasa maka dapat diketahui bahwa bahasa Arab merupakan salah rumpun
bahasa semit diantara beberpa cabang bahasa semit yang lain. Bahasa Arab
apabila ditinjau dari segi geografisnya terdiri dari dua bagian yaitu bahasa
barat dan timur. Adapun bahasa-bahasa timur yaitu bahasa Babil, Asysyur yang
mana kedua bahasa itu sering disebut bahasa Akkadia. Pada bagian bahasa barat
terdiri dari utara dan selatan, dalam bahasa utara terdapat dua bahasa besar
yaitu kan’an dan Aramin. Yang masuk bagian bahasa kan’an adalah kan’an kuno,
finiq, ibriah, dan Muab. Sedangkan bahasa di bagian selatan terbagi menjadi dua
bahasa besar Arab selatan dan Utara. Diantara yang masuk bagian Arab selatan
yaitu dialek Main, Himyar Quataban, Hadramaut, Saba. Bahasa Arab bagian utara
terdiri dari Arab Baidah dan Baqiah. Arab Baidah terdiri dari Lahyan, Samud,
dan Shafa dan Arab Baqiah terdapat dua bagian. Pertama, Arab Aribah yang mana
bahasa ini terdiri dari Kahlan dan Himyar, kedua Arab Musta’ribah yang
merupakan turunan Musta’rib ke Adnan yang merupakan cikal bakal dari keturunan
suku Quraisy Bani Kinanah. Maka dapat diketahui bahwa Bahasa Arab yang hinggi
kini tetap ada dia merupakan salah satu bahasa yang tertua dan pernananya telah
berkembang pesat.[1]
Maka berdasarkan historis bahasa Arab
tadi, bahwa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang pesat dalam
bentuk makna-makna yang terdapat di dalamnya. Sehingga dalam bahasa Arab satu
kata bisa jadi mempunyai makna yang bermacam-macam yang mana dalam memahami
setiap makna tersebut dibutuhkan pengetahuan khusus yang mengkajinya.
Bahasa merupakan salah satu unsur
kebudayaan yang dimiliki oleh setiap bangsa di dunia ini. Bahasa lahir karena
adanya kebutuhan yang mendasar sebagai alat komunikasi serta upaya manusia
untuk meningkatnya peradabannya. Peran bahasa yang ada pada manusia adalah
sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan, pendukung mutlak dari keseluruhan
pengetahuan manusia, dan fungsi lain dari bahasa adalah sebagai lambang dari
suatu agama dan alat permersatu dari suatu bangsa.[2]
Dalam perumpamaannya bahasa bagaikan
makhluk hidup. Ia bisa hidup, tumbuh dan berkembang pada masanya dan barang
kali bahasa juga akan mengalami kematian dalam artian bahasa akan hilang dari
manusia apabila ada suatu bahasa yang sudah ditinggalkan oleh penuturnya
pertanda bahasa itu mati. Salah satu bahasa dunia yang tertua yang masih
memiliki peran adalah bahasa Arab. Sehingga dalam perkembangannya bahasa Arab
merupakan salah satu bahasa dunia yang hidup dan memiliki bentuk atau derivasi
kata yang terbanyak[3]
Salah satu cabang ilmu bahasa yang
mempelajari tentang perkembangan makna kata dan kalimat dalam bahasa adalah
semantik. Jika didefinisikan semantik adalah kajian terhadap makna, tanda dan
representasi baik itu dalam bentuk mental dan linguistik. Dan tujuan yang
paling utama dalam kajian semantik adalah membangun teori tentang arti makna
kata dan kalimat dalam suatu bahasa. Sehingganya disebutkan bahwa kata lain
dari ilmu semantik yang merupakan salah satu cabang ilmu bahasa adalah ilmu
yang mempelajari sistim tanda atau isyarat dalam bahasa yang dikenal dalam
bahasa Arab dengan ilmu dilalah.[4]
Berdasarkan latar belakang di atas maka
penulis akan membahas tentang faktor perkembangan makna pada jenis makna kata,
istilah, idiom dan peribahasa. Dengan rumusan masalah sebagai berikut:
a.
Apa yang dimaksud dengan makna
kata, istilah, idiom dan peribahasa
b.
Bagaimana bentuk kata, istilah,
idiom dan peribahasa dalam bahasa Arab
B.
Pembahasan
1.
Makna kata dan istilah
Saussure mengungkapkan
pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat
pada suatu tanda linguistik. Beliau juga mengungkapkan bahwa makna adalah
pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu linguisitik. Jika
seseorang menafsirkan makna sebuah lambang, berarti ia memikirkan sebagaimana
mestinya tentang lambang tersebut, yakni suatu keinginan untuk menghasilkan jawaban
tertentu dengan kondisi tertentu pula.
Berdasarkan jenisnya, makna
dapat dibedakan menjadi makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal
menurut Marafad yaiu makna yang berkaitan dengan leksikon seperti yang termuat
di dalam kamus. Makna leksikal juga disebut makna asli sebuah kata yang belum
mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dangan kata
lai. Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terjadi dalam struktur atau
susunan unsur-unsur bahasa. [5]
Perbedaan makna kata dan makna isitlah
berkaitan dengan tepat tidaknya makna sebuah satuan ujaran. Makna sebuah kata
meskipun secara sinkronik tidak berubah, tetapi karena adanya berbagai faktor
yang mempengaruhi sehingga menjadi bersifat umum. Makna suatu kata akan menjadi
jelas apabila kata tersebut berada di dalam konteksnya. Apabila suatu kata yang
apabila lepas dari kontek kalimat maka makna kata itu akan menjadi kabur
misalnya makna kata air. Apabila kata air ini berdiri sendiri maka ia akan
menimbulkan pertanyaan apakah air yang dimaksud air sumur, air laut, air telaga
dan lain-lain. Contoh makna kata dalam bahasa Arab yaitu تصريف, kata apabila
dalam ilmu alam maka diartikan bergerak. Sedangkan apabila digunakan dalam ilmu
bahasa maka diartikan berubah. Jadi dalam makna kata bahasa Arab akan berubah
dengan kondisi dimana kata itu diletakan atau dicantumkan.
Makna istilah merupakan suatu makna yang
memiliki yang pasti dan tetap. Kepastian dan ketetapan makna istilah itu sudah
ditetapkan hanya digunakan pada suatu bidang kegiatan atau keilmuan tertentu.
Maka makna istilah tanpa konteks pun tetap jelas. Contohnya kata kuping apabila
digunakan dalam bahasa yang bersifat umum berarti daun telinga atau bisa
juga berarti bagian dalam telinga.[6]
Dari definisi antara makna kata dan
istilah, bahwa makna kata adalah meskipun secara sikronik tidak berupa tetapi
apabila suatu kata terlepas dari konteksnya maka makna kata akan kabur tidak
jelas atau kata dapat memiliki makna yang berbeda jika konteksnya berubah.
Sedangkan makna istilah tetap jelas atau khusus karena istilah hanya digunakan
pada bidang kegiatan dan bidang keilmuwan tertentu.
2.
Makna idiom dan peribahasa
Idiom merupakan satuan-satuan kebahasaan
yang terdiri dari kata, frasa, dan kalimat. Yang mana unsur-unsur maknanya tidak
dapat diketahui baik secara makna leksikal maupun makna satuanya secara
gramatikal. Makna idiom adalah makna yang terdapat pada kelompok kata yang
tidak dapat ditelusuri asal-usul kemunculan kata-kata tersebut. Dengan kata
lain bahwa idiom merupakan makna yang terdapat pada kumpulan kata tertentu,
dimana makna idiom yang berbentuk berbeda dengan makna aslinya dari kata
tersebut. Sedangkan peribahasa merupakan satuan kebahasaan yang digunakan
sebagai pembanding, namun makna dari peribahasa ini masih bisa dilacak dari
segi leksikal maupun gramatikal unsur-unsur pembentuknya.[7]
Makna idiom yang dijelaskan sebelumnya
menunjukan bahwa makna idiom adalah merupakan satuan kebahasaan yang terdiri
beberapa kata. Selanjutkan pengertian yang dikemukan oleh para ahli adalah
sebagai beritut:
a.
Menurut al-khuli idiom merupakan
kontrusi kata yang maknanya secara keseluruhan berbeda dengan makna
masing-masing
b.
Cyssco menyebutkan bahwa
pengertian idiom adalah suatu ungkapan yang terdiri dari beberapa kata yang
punya satu arti atau pengertian tertentu yang tidak mungkin dapat dimengerti
atau dipahami dengan timbangan kata demi kata yang membentuknya.[8]
c.
Chaer mengemukakan makna idiom
adalah makna sebuah satuan bahasa baik itu kata, frase maupun kalimat yang
menyimpang dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya.
Untuk mengetahui makna sebuah idiom baik frase maupun kalimat tidak ada jalan
atau cara lain kecuali mencari dalam kamus.[9]
d.
Djajasudarma mengungkapkan bahwa makna idiomatik adalah makna leksikal yang
terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain
dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Dengan kata lain gabungan kata
tersbut sudah memiliki makna tersendidi yang berlainan dengan makna pembetuknya
dan jika digabung dengan kata lain maka maknanya akan berubah.[10]
Jadi makna idiom yang dipaparkan oleh
para ahli antara satu dengan lain tidak jauh berbeda. Yang mana makna idiom
jika digabungkan antara satu dengan lainnya tetap akan menghasilkan pengertian
yang sama bahwa makna idiom merupakan satuan-satuan kebahasaan yang terdiri
dari kata, frase dan kalimat yang maknanya sangat jauh berbeda dengan makna
asli atau pembentukan kata semula.
Adapun beberapa contoh idiom yaitu :
·
Panjang Tangan, yang terdiri
dari dua kata yaitu panjang dan tangan. Pada saat digabungkan
menjadi panjang tangan, artinya bukan lagi dengan makna dasar kata tetapi
berubah menjadi pencuri. Perubahan makna yang ditimbulkan oleh
penggunaan kata yang berupa idiom tersebut berfungsi untuk memperhalus bahasa.[11]
·
Hidung belang. Idiom hidung
belang tersebut bermakna ‘lelaki yang suka berganti-ganti pasangan dalam
bercinta’. Arti idiom itu tidak dapat dikaitkan dengan arti leksikal kata ‘’hidung’’
dan ‘’belang’’. [12]
Berikut bentuk-bentuk idiom dan fungsinya. Dari segi bentuk, idiom dapat
dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
a.
Idiom penuh, merupakan idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur
menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh
kesatuan itu
b.
Idiom sebagian, merupakan idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki
makna leksikal sendiri.[13]
Sedangkan fungsinya menurut Chaer terdapat 4 fungsi idiom yaitu:
a.
Sebagai penunjang keterampilan berbahasa dan memahami makna kata idiom,
b.
Sebagai sarana untuk berkomunikasi yang halus atau bisa menimbulkan makna
yang tidak langsung,
c.
Sebagai salah satu bentuk untuk mengetahui budaya masyarakat, dan
d.
Sebagai masalah ekspresi dalam penuturan perkembangan budaya sebagai
masyarakat pemakai bahasa.[14]
Idiom diartikan pula sebagai komponen
bahasa yang tidak umum. Mengapa idiom disebut dengan tidak umum karena memiliki
ciri tersendiri. Ciri-ciri atau kekhasan itu salah satunya bahwa idiom
merupakan satuan ujaran yang maknanya tidak bisa diramalkan dengan makna
unsur-unsurnya baik secara leksikal atau secara tata bahasa.[15]
Tabel Idiom dalam
bahasa Arab
|
NO |
Idiom Arab |
Makna harfiah |
Makna yang
dimaksud |
|
1 |
فرشوا لك الطريق بالورود |
Menabur mawar
di jalan |
Menyambut
dengan hangat |
|
2 |
لا ناقة له فيها ولا جمل |
Tidak ada unta
betina padanya dan unta jantan |
Sia-sia |
|
3 |
بيد من حديد |
Dengan tangan
dari besi |
Tangan
besi/memerintah dengan bengis |
|
4 |
ألقي السلاح |
Melemparkan senjata/lempar
senjata |
Menyerah/ tidak
berdaya |
|
5 |
الايادي البيض |
Tangan-tangan
yang putih |
Para
penolong/orang yang suka membantu |
|
6 |
دارت الارض بــــــ |
Bumi berputar |
Bingung/pikiran
yang tidak menentu atau pikiran yang tidak punya arah |
Di dalam tabel tersebut merupakan contoh
idiom yang berdasarkan budaya yang terjadi di kalangan orang-orang Arab. Adapun
idiom yang sering digunakan dalam bahas Arab dalam tulisan-tulisan adalah
berikut:
a.
يقوم بــ bermakna
melakukan yakni mengacu pada gabungan kata preposisi antara kata يقوم dan huruf بــ
b.
يقوم علي
bermakna
berdasarkan yang menggabungkan antara kata kerja dan huruf
c.
قام و قعد bermakna
gundah gulana, bingung, resah, yaitu digabungkan dua kata kerja dengan
preposisi huruf و
d.
أسال لعابه bermakna
menggiurkan yang mempunyai gabungan kata kerja dengan menggabungkan ه dhamir
atau kata ganti
Peribahasa merupakan suatu bentuk kelompok kata atau kalimat yang mempunyai
maksud dan tujuan untuk menyatakan sesuatu kondisi seseorang ataupun hal yang
mengungkapkan perbuatan seseorang. Peribahasa juga bisa diartikan sebaga
ungkapan tak langsung. Akan tetapi terdapat makna tersirat untuk menyampaikan
suatu hal yang bisa dipahami. Sedangkan dalam pengertian linguistik peribahasa
adalah penggalang kata yang sudah membeku atau menjadi satu makna di kalangan
masyarakat.[16]
Peribahasa merupakan tuturan tradisional yang bersifat tetap pemakaiannya
mengandung makna kias, tidak mengandung makna simile. Peribahasa sebagai satuan
lingual yang konstituennya bersifat konstan dapat berupa satuan frase, satuan
kalimat, dan satuan klausa. Peribahasa berupa kalimat dapat diklasifikasikan
menjadi enam jenis yaki, kalimat tunggal, kalimat majemuk koordinatif, kalimat
mejemuk subordinatif, kalimat imperaktif positif, dan kalimat imperaktif
negatif.[17]
Dengan sebuah peribahasa, dapat digambarkan suatu maksud dengan tepat
sekali. Maksud yang direpresentasikan oleh sebuah peribahasa dapat bertujuan
untuk menyatakan apa yang terasa dihatinya, dipakai untuk tujuan mengejek,
dipakai untuk tujuan memuji, dan dipakai untuk tujuan memberi nasihat. Berikut
ini merupakan contoh peribahasa dalam bahasa Indonesia :
a.
Seperti anjing dengan kucing. Kalimat tersebut terdapat dua nama binatang
yakni ‘’anjing’’ dan ‘’kucing’’. Ketika konteks diperhitungkan maka maksud dari
contoh tersebut digunakan untuk menyebut permusuhan yang terjadi di antara dua
orang sahabat. Karena pada kenyataannya kedua binatang ini jika dijadikan satu
mereka akan saling berkelahi.
b.
Seperti cacing kepanasan. Kalimat tersebut merupakan keluh kesah seseorang
yang sedang kesakitan atau kesusahan atau mendapat malu besar. Pada kenyataan
apabila seekor cacing kepanasan tentunya
cacing tersebut akan menggeliat kesakitan.[18]
c.
Peribahasa dalam bahasa Arab yaitu: رب
أخ لم تلده أمك dalam kalimat ini menyatakan bahwa dengan siapapun kita
bisa menjadi bersaudara walaupun tidak dilahirkan dalam satu kandungan.
d.
Peribahasa, الحديث ذو شجون yang maknanya
yaitu pembicaraan itu mempunyai cabang banyak. Maksud dari peribahasa ini
adalah bahwa adanya pembicaraan yang merambat ke pembicaraan yang lain. Pembicaraan
tentang suatu hal lain yang masih terkait dengan pembicaraan awal.
e.
Contoh peribahasa yang lain adalah كثير الرمد yang artinya banyak debu. Dalam peribahasa ini bisa ditelurusi
maksud dari ungkapan ini menunjukan kepada orang dermawan yang selalu
menyiapkan makanan kepada siapaun yang datang kerumahnya atau orang yang senang
membantu orang lain.[19]
C.
Kesimpulan
Jenis-jenis makna pada pembahasan ini
terdapat 4 jenis makna yaitu, pertama jenis makna kata yang mana dalam pengertiannya
makna kata adalah sesuatu yang bersifat umum, atau belum jelas apabila masih
berdiri sendiri. Jadi kata, akan menyesuaikan dengan kondisi tertentu dan
tergantung kata itu digunakan pada sesuatu. Kedua, makna istilah adalah makna
yang jelas, pasti dan tidak meragukan. Walaupun istilah ini dipakai tanpa
konteks kalimat. Dan istilah ini hanya dipakai pada kegiatan dan keilmuan
tertentu. Ketiga, makna idiom berdasarkan pengertian pada pembahasan yang telah
dipaparkan sebelumnya bahwa makna idiom adalah makna yang tidak bisa ditentukan
langsung dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun makna secara
gramatikal. Keempat, makna peribahasa adalah sesuatu makna yang masih bisa
dilacak dari unsur-unsur yang terdapat di dalamnya.
Berdasarkan makna-makna yang telah
disebutkan di atas bahwa setiap makna mempunyai tempat dan fungsi tersendiri
dalam penggunaan. Bahkan yang mendasari muncul jenis-jenis makna ini disebabkan
adanya perkembang pada setiap bahasa serta ada kebutuhan dalam penggunaan
dengan dipengaruhi oleh budaya dan kondisi geografis
Daftar Pustaka
AKBAR,
AKBAR, ‘ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM BAHASA KONJHO KECAMATAN SINJAI BARAT
KABUPATEN SINJAI’, BAHASA DAN SASTRA, 5.1
Hanif,
Akhyar, ‘Studi Terhadap Kosakata Bahasa Arab Dalam Bahasa Minangkabau’, Arabiyatuna :
Jurnal Bahasa Arab, 1.2 (2017), 119
<https://doi.org/10.29240/jba.v1i2.174>
Harlina,
Harlina, ‘Idiom Dalam Masyarakat Di Desa Pondok Tengah Kecamatan V Koto
Kabupaten Muko-Muko Bengkulu Utara’ (unpublished skripsi, Universitas Negeri
Padang, 2012) <http://repository.unp.ac.id/1998/> [accessed 23 April
2020]
Hartati,
Sri, ‘Jenis, Makna, Dan Fungsi Peribahasa Maanyan (Type, Meaning, and Function
of the Maanyan Proverb)’, JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP),
5.2 (2017), 255–273
Kholison,
Mohammad, ‘Semantik Bahasa Arab Tinjauan Historis Teoritik Dan Aplikatif’, Sidoarjo:
Lisan Arabi, 2016
Mahwiyah,
Siti, ‘Unsur-Unsur Budaya Dalam Amtsâl’Arabiyyah (Peribahasa Arab)’, Arabiyat:
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Dan KebahasaAraban, 1.2 (2014), 237–252
Monalisa,
Afrita, ‘IDIOM DALAM BAHASA DAYAK BEHE BALANGINT’, Jurnal Pendidikan Dan
Pembelajaran Khatulistiwa, 6.10
Muthmainnah,
Muthmainnah, ‘KEMAMPUAN MENGGUNAKAN IDIOM DALAM KALIMAT PESERTA DIDIK SMP
NEGERI 1 TUTALLU KABUPATEN POLEWALI MANDAR’, Pepatudzu : Media Pendidikan
dan Sosial Kemasyarakatan, 4.1 (2016), 60–71
<https://doi.org/10.35329/fkip.v4i1.5>
Nasution,
Sahkholid, Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Lisan Arabi, 2017)
Nurcholisho,
Lilik Rochmad, ‘FLEKSIBELITAS BAHASA ARAB DALAM MEMBENTUK UNGKAPAN IDIOM’, Lisanan
Arabiya: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 1.02 (2017), 145–61
<https://doi.org/10.32699/liar.v1i02.203>
Pbsi,
Sarnia, ‘POLISEMI DALAM BAHASA MUNA’, JURNAL HUMANIKA, 3.15 (2017)
<http://ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA/article/view/606> [accessed 23
April 2020]
Pratiwi,
Heppy Atma, ‘Idioms in the National News Rubric Category of Education on
Cnnindonesia. Com’, Pena Literasi, 1.1 (2018), 1–16
Rohbiah,
Tatu Siti, ‘Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Inggris pada
Istilah Ekonomi’, Buletin Al-Turas, 23.2 (2017), 319–35
<https://doi.org/10.15408/bat.v23i2.5790>
Salim,
Latifah, ‘Sejarah Pertumbuha dan Perkembangan Bahasa Arab’, Diwan : Jurnal
Bahasa dan Sastra Arab, 3.1 (2017), 77–90
<https://doi.org/10.24252/diwan.v3i1.2928>
Sedyawati,
Agustia, ‘IDIOM DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS (ANALISIS KONTRASTIF)’
(unpublished PhD Thesis, Universitas Negeri Semarang, 2017)
Suyanti,
Suyanti, ‘PERIBAHASA YANG BERUNSUR NAMA BINATANG DALAM BAHASA INDONESIA’, Sintesis,
8.1 (2014), 51–59
Tiawaldi,
Adit, and Muhbib Abdul Wahab, ‘PERKEMBANGAN BAHASA ARAB MODERN DALAM PERSPEKTIF
SINTAKSIS DAN SEMANTIK PADA MAJALAH ALJAZEERA’, Arabiyat :
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan KebahasaAraban,
4.1 (2017), 1–19 <https://doi.org/10.15408/a.v4i1.5328>
[1] Latifah
Salim, ‘Sejarah Pertumbuha dan Perkembangan Bahasa Arab’, Diwan : Jurnal
Bahasa dan Sastra Arab, 3.1 (2017), 77–90
<https://doi.org/10.24252/diwan.v3i1.2928>.
[2] Sahkholid
Nasution, Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Lisan Arabi, 2017). h. 37
[3] Akhyar
Hanif, ‘Studi Terhadap Kosakata Bahasa Arab Dalam Bahasa Minangkabau’, Arabiyatuna :
Jurnal Bahasa Arab, 1.2 (2017), 119
<https://doi.org/10.29240/jba.v1i2.174>.
[4] Adit
Tiawaldi and Muhbib Abdul Wahab, ‘PERKEMBANGAN BAHASA ARAB MODERN DALAM PERSPEKTIF
SINTAKSIS DAN SEMANTIK PADA MAJALAH ALJAZEERA’, Arabiyat : Jurnal Pendidikan
Bahasa Arab dan KebahasaAraban, 4.1 (2017), 1–19
<https://doi.org/10.15408/a.v4i1.5328>.
[5] Sarnia
Pbsi, ‘POLISEMI DALAM BAHASA MUNA’, JURNAL HUMANIKA, 3.15 (2017)
<http://ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA/article/view/606> [accessed 23
April 2020].
[6] Tatu Siti
Rohbiah, ‘Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Inggris pada
Istilah Ekonomi’, Buletin Al-Turas, 23.2 (2017), 319–35 <https://doi.org/10.15408/bat.v23i2.5790>.
[7] Mohammad
Kholison, ‘Semantik Bahasa Arab Tinjauan Historis Teoritik Dan Aplikatif’, Sidoarjo:
Lisan Arabi, 2016. h. 203-204
[8] Agustia
Sedyawati, ‘IDIOM DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS (ANALISIS KONTRASTIF)’
(unpublished PhD Thesis, Universitas Negeri Semarang, 2017). h. 23
[9] AKBAR
AKBAR, ‘ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM BAHASA KONJHO KECAMATAN SINJAI BARAT
KABUPATEN SINJAI’, BAHASA DAN SASTRA, 5.1.
[10] Muthmainnah
Muthmainnah, ‘KEMAMPUAN MENGGUNAKAN IDIOM DALAM KALIMAT PESERTA DIDIK SMP
NEGERI 1 TUTALLU KABUPATEN POLEWALI MANDAR’, Pepatudzu : Media Pendidikan
dan Sosial Kemasyarakatan, 4.1 (2016), 60–71
<https://doi.org/10.35329/fkip.v4i1.5>.
[11] Harlina
Harlina, ‘Idiom Dalam Masyarakat Di Desa Pondok Tengah Kecamatan V Koto
Kabupaten Muko-Muko Bengkulu Utara’ (unpublished skripsi, Universitas Negeri
Padang, 2012) <http://repository.unp.ac.id/1998/> [accessed 23 April
2020].
[12] Afrita Monalisa,
‘IDIOM DALAM BAHASA DAYAK BEHE BALANGINT’, Jurnal Pendidikan Dan
Pembelajaran Khatulistiwa, 6.10.
[13] Heppy
Atma Pratiwi, ‘Idioms in the National News Rubric Category of Education on
Cnnindonesia. Com’, Pena Literasi, 1.1 (2018), 1–16.
[14] Harlina. Idiom
Dalam Masyarakat Di Desa Pondok……..h. 668
[15] Lilik
Rochmad Nurcholisho, ‘FLEKSIBELITAS BAHASA ARAB DALAM MEMBENTUK UNGKAPAN
IDIOM’, Lisanan Arabiya: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 1.02 (2017),
145–61 <https://doi.org/10.32699/liar.v1i02.203>.
[16] AKBAR. ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM
BAHASA KONJHO…. h.6
[17] Sri
Hartati, ‘Jenis, Makna, Dan Fungsi Peribahasa Maanyan (Type, Meaning, and
Function of the Maanyan Proverb)’, JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
(JBSP), 5.2 (2017), 255–273.
[18] Suyanti
Suyanti, ‘PERIBAHASA YANG BERUNSUR NAMA BINATANG DALAM BAHASA INDONESIA’, Sintesis,
8.1 (2014), 51–59.
[19] Siti
Mahwiyah, ‘Unsur-Unsur Budaya Dalam Amtsâl’Arabiyyah (Peribahasa Arab)’, Arabiyat:
Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Dan KebahasaAraban, 1.2 (2014), 237–252.
Komentar
Posting Komentar