JENIS-JENIS MAKNA KATA, ISTILAH, IDIOM DAN PERIBAHASA

JENIS-JENIS MAKNA KATA, ISTILAH, IDIOM DAN PERIBAHASA 

Suleman D Kadir, Vira Nurwaty Arbangka
sulemand.kadir@gmail.com

 

A.   Latar Belakang

Bahasa Arab jika ditinjau dari suatu genetis bahasa maka dapat diketahui bahwa bahasa Arab merupakan salah rumpun bahasa semit diantara beberpa cabang bahasa semit yang lain. Bahasa Arab apabila ditinjau dari segi geografisnya terdiri dari dua bagian yaitu bahasa barat dan timur. Adapun bahasa-bahasa timur yaitu bahasa Babil, Asysyur yang mana kedua bahasa itu sering disebut bahasa Akkadia. Pada bagian bahasa barat terdiri dari utara dan selatan, dalam bahasa utara terdapat dua bahasa besar yaitu kan’an dan Aramin. Yang masuk bagian bahasa kan’an adalah kan’an kuno, finiq, ibriah, dan Muab. Sedangkan bahasa di bagian selatan terbagi menjadi dua bahasa besar Arab selatan dan Utara. Diantara yang masuk bagian Arab selatan yaitu dialek Main, Himyar Quataban, Hadramaut, Saba. Bahasa Arab bagian utara terdiri dari Arab Baidah dan Baqiah. Arab Baidah terdiri dari Lahyan, Samud, dan Shafa dan Arab Baqiah terdapat dua bagian. Pertama, Arab Aribah yang mana bahasa ini terdiri dari Kahlan dan Himyar, kedua Arab Musta’ribah yang merupakan turunan Musta’rib ke Adnan yang merupakan cikal bakal dari keturunan suku Quraisy Bani Kinanah. Maka dapat diketahui bahwa Bahasa Arab yang hinggi kini tetap ada dia merupakan salah satu bahasa yang tertua dan pernananya telah berkembang pesat.[1]

Maka berdasarkan historis bahasa Arab tadi, bahwa dalam perkembangannya telah mengalami perubahan yang pesat dalam bentuk makna-makna yang terdapat di dalamnya. Sehingga dalam bahasa Arab satu kata bisa jadi mempunyai makna yang bermacam-macam yang mana dalam memahami setiap makna tersebut dibutuhkan pengetahuan khusus yang mengkajinya.

Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang dimiliki oleh setiap bangsa di dunia ini. Bahasa lahir karena adanya kebutuhan yang mendasar sebagai alat komunikasi serta upaya manusia untuk meningkatnya peradabannya. Peran bahasa yang ada pada manusia adalah sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan, pendukung mutlak dari keseluruhan pengetahuan manusia, dan fungsi lain dari bahasa adalah sebagai lambang dari suatu agama dan alat permersatu dari suatu bangsa.[2]

Dalam perumpamaannya bahasa bagaikan makhluk hidup. Ia bisa hidup, tumbuh dan berkembang pada masanya dan barang kali bahasa juga akan mengalami kematian dalam artian bahasa akan hilang dari manusia apabila ada suatu bahasa yang sudah ditinggalkan oleh penuturnya pertanda bahasa itu mati. Salah satu bahasa dunia yang tertua yang masih memiliki peran adalah bahasa Arab. Sehingga dalam perkembangannya bahasa Arab merupakan salah satu bahasa dunia yang hidup dan memiliki bentuk atau derivasi kata yang terbanyak[3]

Salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang perkembangan makna kata dan kalimat dalam bahasa adalah semantik. Jika didefinisikan semantik adalah kajian terhadap makna, tanda dan representasi baik itu dalam bentuk mental dan linguistik. Dan tujuan yang paling utama dalam kajian semantik adalah membangun teori tentang arti makna kata dan kalimat dalam suatu bahasa. Sehingganya disebutkan bahwa kata lain dari ilmu semantik yang merupakan salah satu cabang ilmu bahasa adalah ilmu yang mempelajari sistim tanda atau isyarat dalam bahasa yang dikenal dalam bahasa Arab dengan ilmu dilalah.[4]

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis akan membahas tentang faktor perkembangan makna pada jenis makna kata, istilah, idiom dan peribahasa. Dengan rumusan masalah sebagai berikut:

a.       Apa yang dimaksud dengan makna kata, istilah, idiom dan peribahasa

b.      Bagaimana bentuk kata, istilah, idiom dan peribahasa dalam bahasa Arab

B.   Pembahasan

1.    Makna kata dan istilah

Saussure mengungkapkan pengertian makna sebagai pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu tanda linguistik. Beliau juga mengungkapkan bahwa makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki atau terdapat pada suatu linguisitik. Jika seseorang menafsirkan makna sebuah lambang, berarti ia memikirkan sebagaimana mestinya tentang lambang tersebut, yakni suatu keinginan untuk menghasilkan jawaban tertentu dengan kondisi tertentu pula.

Berdasarkan jenisnya, makna dapat dibedakan menjadi makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal menurut Marafad yaiu makna yang berkaitan dengan leksikon seperti yang termuat di dalam kamus. Makna leksikal juga disebut makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dangan kata lai. Sedangkan makna gramatikal adalah makna yang terjadi dalam struktur atau susunan unsur-unsur bahasa. [5]

Perbedaan makna kata dan makna isitlah berkaitan dengan tepat tidaknya makna sebuah satuan ujaran. Makna sebuah kata meskipun secara sinkronik tidak berubah, tetapi karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi sehingga menjadi bersifat umum. Makna suatu kata akan menjadi jelas apabila kata tersebut berada di dalam konteksnya. Apabila suatu kata yang apabila lepas dari kontek kalimat maka makna kata itu akan menjadi kabur misalnya makna kata air. Apabila kata air ini berdiri sendiri maka ia akan menimbulkan pertanyaan apakah air yang dimaksud air sumur, air laut, air telaga dan lain-lain. Contoh makna kata dalam bahasa Arab yaitu تصريف, kata apabila dalam ilmu alam maka diartikan bergerak. Sedangkan apabila digunakan dalam ilmu bahasa maka diartikan berubah. Jadi dalam makna kata bahasa Arab akan berubah dengan kondisi dimana kata itu diletakan atau dicantumkan.

Makna istilah merupakan suatu makna yang memiliki yang pasti dan tetap. Kepastian dan ketetapan makna istilah itu sudah ditetapkan hanya digunakan pada suatu bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Maka makna istilah tanpa konteks pun tetap jelas. Contohnya kata kuping apabila digunakan dalam bahasa yang bersifat umum berarti daun telinga atau bisa juga  berarti bagian dalam telinga.[6]

Dari definisi antara makna kata dan istilah, bahwa makna kata adalah meskipun secara sikronik tidak berupa tetapi apabila suatu kata terlepas dari konteksnya maka makna kata akan kabur tidak jelas atau kata dapat memiliki makna yang berbeda jika konteksnya berubah. Sedangkan makna istilah tetap jelas atau khusus karena istilah hanya digunakan pada bidang kegiatan dan bidang keilmuwan tertentu.

2.    Makna idiom dan peribahasa

Idiom merupakan satuan-satuan kebahasaan yang terdiri dari kata, frasa, dan kalimat. Yang mana unsur-unsur maknanya tidak dapat diketahui baik secara makna leksikal maupun makna satuanya secara gramatikal. Makna idiom adalah makna yang terdapat pada kelompok kata yang tidak dapat ditelusuri asal-usul kemunculan kata-kata tersebut. Dengan kata lain bahwa idiom merupakan makna yang terdapat pada kumpulan kata tertentu, dimana makna idiom yang berbentuk berbeda dengan makna aslinya dari kata tersebut. Sedangkan peribahasa merupakan satuan kebahasaan yang digunakan sebagai pembanding, namun makna dari peribahasa ini masih bisa dilacak dari segi leksikal maupun gramatikal unsur-unsur pembentuknya.[7]

Makna idiom yang dijelaskan sebelumnya menunjukan bahwa makna idiom adalah merupakan satuan kebahasaan yang terdiri beberapa kata. Selanjutkan pengertian yang dikemukan oleh para ahli adalah sebagai beritut:

a.       Menurut al-khuli idiom merupakan kontrusi kata yang maknanya secara keseluruhan berbeda dengan makna masing-masing

b.      Cyssco menyebutkan bahwa pengertian idiom adalah suatu ungkapan yang terdiri dari beberapa kata yang punya satu arti atau pengertian tertentu yang tidak mungkin dapat dimengerti atau dipahami dengan timbangan kata demi kata yang membentuknya.[8]

c.       Chaer mengemukakan makna idiom adalah makna sebuah satuan bahasa baik itu kata, frase maupun kalimat yang menyimpang dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna sebuah idiom baik frase maupun kalimat tidak ada jalan atau cara lain kecuali mencari dalam kamus.[9]

d.      Djajasudarma mengungkapkan bahwa makna idiomatik adalah makna leksikal yang terbentuk dari beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Dengan kata lain gabungan kata tersbut sudah memiliki makna tersendidi yang berlainan dengan makna pembetuknya dan jika digabung dengan kata lain maka maknanya akan berubah.[10]

Jadi makna idiom yang dipaparkan oleh para ahli antara satu dengan lain tidak jauh berbeda. Yang mana makna idiom jika digabungkan antara satu dengan lainnya tetap akan menghasilkan pengertian yang sama bahwa makna idiom merupakan satuan-satuan kebahasaan yang terdiri dari kata, frase dan kalimat yang maknanya sangat jauh berbeda dengan makna asli atau pembentukan kata semula.

Adapun beberapa contoh idiom yaitu :

·         Panjang Tangan, yang terdiri dari dua kata yaitu panjang dan tangan. Pada saat digabungkan menjadi panjang tangan, artinya bukan lagi dengan makna dasar kata tetapi berubah menjadi pencuri. Perubahan makna yang ditimbulkan oleh penggunaan kata yang berupa idiom tersebut berfungsi untuk memperhalus bahasa.[11]

·         Hidung belang. Idiom hidung belang tersebut bermakna ‘lelaki yang suka berganti-ganti pasangan dalam bercinta’. Arti idiom itu tidak dapat dikaitkan dengan arti leksikal kata ‘’hidung’’ dan ‘’belang’’. [12]

Berikut bentuk-bentuk idiom dan fungsinya. Dari segi bentuk, idiom dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

a.       Idiom penuh, merupakan idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu

b.      Idiom sebagian, merupakan idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikal sendiri.[13]

Sedangkan fungsinya menurut Chaer terdapat 4 fungsi idiom yaitu:

a.       Sebagai penunjang keterampilan berbahasa dan memahami makna kata idiom,

b.      Sebagai sarana untuk berkomunikasi yang halus atau bisa menimbulkan makna yang tidak langsung,

c.       Sebagai salah satu bentuk untuk mengetahui budaya masyarakat, dan

d.      Sebagai masalah ekspresi dalam penuturan perkembangan budaya sebagai masyarakat pemakai bahasa.[14]

Idiom diartikan pula sebagai komponen bahasa yang tidak umum. Mengapa idiom disebut dengan tidak umum karena memiliki ciri tersendiri. Ciri-ciri atau kekhasan itu salah satunya bahwa idiom merupakan satuan ujaran yang maknanya tidak bisa diramalkan dengan makna unsur-unsurnya baik secara leksikal atau secara tata bahasa.[15]

Tabel Idiom dalam bahasa Arab

NO

Idiom Arab

Makna harfiah

Makna yang dimaksud

1

فرشوا لك الطريق بالورود

Menabur mawar di jalan

Menyambut dengan hangat

2

لا ناقة له فيها ولا جمل

Tidak ada unta betina padanya dan unta jantan

Sia-sia

3

بيد من حديد

Dengan tangan dari besi

Tangan besi/memerintah dengan bengis

4

ألقي السلاح

Melemparkan senjata/lempar senjata

Menyerah/ tidak berdaya

5

الايادي البيض

Tangan-tangan yang putih

Para penolong/orang yang suka membantu

6

دارت الارض بــــــ

Bumi berputar

Bingung/pikiran yang tidak menentu atau pikiran yang tidak punya arah

 

Di dalam tabel tersebut merupakan contoh idiom yang berdasarkan budaya yang terjadi di kalangan orang-orang Arab. Adapun idiom yang sering digunakan dalam bahas Arab dalam tulisan-tulisan adalah berikut:

a.       يقوم بــ bermakna melakukan yakni mengacu pada gabungan kata preposisi antara kata يقوم dan huruf بــ

b.      يقوم علي bermakna berdasarkan yang menggabungkan antara kata kerja dan huruf

c.       قام و قعد bermakna gundah gulana, bingung, resah, yaitu digabungkan dua kata kerja dengan preposisi huruf و

d.      أسال لعابه bermakna menggiurkan yang mempunyai gabungan kata kerja dengan menggabungkan ه dhamir atau kata ganti

Peribahasa merupakan suatu bentuk kelompok kata atau kalimat yang mempunyai maksud dan tujuan untuk menyatakan sesuatu kondisi seseorang ataupun hal yang mengungkapkan perbuatan seseorang. Peribahasa juga bisa diartikan sebaga ungkapan tak langsung. Akan tetapi terdapat makna tersirat untuk menyampaikan suatu hal yang bisa dipahami. Sedangkan dalam pengertian linguistik peribahasa adalah penggalang kata yang sudah membeku atau menjadi satu makna di kalangan masyarakat.[16]

Peribahasa merupakan tuturan tradisional yang bersifat tetap pemakaiannya mengandung makna kias, tidak mengandung makna simile. Peribahasa sebagai satuan lingual yang konstituennya bersifat konstan dapat berupa satuan frase, satuan kalimat, dan satuan klausa. Peribahasa berupa kalimat dapat diklasifikasikan menjadi enam jenis yaki, kalimat tunggal, kalimat majemuk koordinatif, kalimat mejemuk subordinatif, kalimat imperaktif positif, dan kalimat imperaktif negatif.[17]

Dengan sebuah peribahasa, dapat digambarkan suatu maksud dengan tepat sekali. Maksud yang direpresentasikan oleh sebuah peribahasa dapat bertujuan untuk menyatakan apa yang terasa dihatinya, dipakai untuk tujuan mengejek, dipakai untuk tujuan memuji, dan dipakai untuk tujuan memberi nasihat. Berikut ini merupakan contoh peribahasa dalam bahasa Indonesia :

a.       Seperti anjing dengan kucing. Kalimat tersebut terdapat dua nama binatang yakni ‘’anjing’’ dan ‘’kucing’’. Ketika konteks diperhitungkan maka maksud dari contoh tersebut digunakan untuk menyebut permusuhan yang terjadi di antara dua orang sahabat. Karena pada kenyataannya kedua binatang ini jika dijadikan satu mereka akan saling berkelahi.

b.      Seperti cacing kepanasan. Kalimat tersebut merupakan keluh kesah seseorang yang sedang kesakitan atau kesusahan atau mendapat malu besar. Pada kenyataan apabila seekor cacing kepanasan  tentunya cacing tersebut akan menggeliat kesakitan.[18]

c.       Peribahasa dalam bahasa  Arab yaitu: رب أخ لم تلده أمك dalam kalimat ini menyatakan bahwa dengan siapapun kita bisa menjadi bersaudara walaupun tidak dilahirkan dalam satu kandungan.

d.      Peribahasa, الحديث ذو شجون yang maknanya yaitu pembicaraan itu mempunyai cabang banyak. Maksud dari peribahasa ini adalah bahwa adanya pembicaraan yang merambat ke pembicaraan yang lain. Pembicaraan tentang suatu hal lain yang masih terkait dengan pembicaraan awal.

e.       Contoh peribahasa yang lain adalah كثير الرمد yang artinya banyak debu. Dalam peribahasa ini bisa ditelurusi maksud dari ungkapan ini menunjukan kepada orang dermawan yang selalu menyiapkan makanan kepada siapaun yang datang kerumahnya atau orang yang senang membantu orang lain.[19]  

C.   Kesimpulan

Jenis-jenis makna pada pembahasan ini terdapat 4 jenis makna yaitu, pertama jenis makna kata yang mana dalam pengertiannya makna kata adalah sesuatu yang bersifat umum, atau belum jelas apabila masih berdiri sendiri. Jadi kata, akan menyesuaikan dengan kondisi tertentu dan tergantung kata itu digunakan pada sesuatu. Kedua, makna istilah adalah makna yang jelas, pasti dan tidak meragukan. Walaupun istilah ini dipakai tanpa konteks kalimat. Dan istilah ini hanya dipakai pada kegiatan dan keilmuan tertentu. Ketiga, makna idiom berdasarkan pengertian pada pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa makna idiom adalah makna yang tidak bisa ditentukan langsung dari makna unsur-unsurnya baik secara leksikal maupun makna secara gramatikal. Keempat, makna peribahasa adalah sesuatu makna yang masih bisa dilacak dari unsur-unsur yang terdapat di dalamnya.

Berdasarkan makna-makna yang telah disebutkan di atas bahwa setiap makna mempunyai tempat dan fungsi tersendiri dalam penggunaan. Bahkan yang mendasari muncul jenis-jenis makna ini disebabkan adanya perkembang pada setiap bahasa serta ada kebutuhan dalam penggunaan dengan dipengaruhi oleh budaya dan kondisi geografis

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

AKBAR, AKBAR, ‘ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM BAHASA KONJHO KECAMATAN SINJAI BARAT KABUPATEN SINJAI’, BAHASA DAN SASTRA, 5.1

Hanif, Akhyar, ‘Studi Terhadap Kosakata Bahasa Arab Dalam Bahasa Minangkabau’, Arabiyatuna : Jurnal Bahasa Arab, 1.2 (2017), 119 <https://doi.org/10.29240/jba.v1i2.174>

Harlina, Harlina, ‘Idiom Dalam Masyarakat Di Desa Pondok Tengah Kecamatan V Koto Kabupaten Muko-Muko Bengkulu Utara’ (unpublished skripsi, Universitas Negeri Padang, 2012) <http://repository.unp.ac.id/1998/> [accessed 23 April 2020]

Hartati, Sri, ‘Jenis, Makna, Dan Fungsi Peribahasa Maanyan (Type, Meaning, and Function of the Maanyan Proverb)’, JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP), 5.2 (2017), 255–273

Kholison, Mohammad, ‘Semantik Bahasa Arab Tinjauan Historis Teoritik Dan Aplikatif’, Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016

Mahwiyah, Siti, ‘Unsur-Unsur Budaya Dalam Amtsâl’Arabiyyah (Peribahasa Arab)’, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Dan KebahasaAraban, 1.2 (2014), 237–252

Monalisa, Afrita, ‘IDIOM DALAM BAHASA DAYAK BEHE BALANGINT’, Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 6.10

Muthmainnah, Muthmainnah, ‘KEMAMPUAN MENGGUNAKAN IDIOM DALAM KALIMAT PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 TUTALLU KABUPATEN POLEWALI MANDAR’, Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan, 4.1 (2016), 60–71 <https://doi.org/10.35329/fkip.v4i1.5>

Nasution, Sahkholid, Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Lisan Arabi, 2017)

Nurcholisho, Lilik Rochmad, ‘FLEKSIBELITAS BAHASA ARAB DALAM MEMBENTUK UNGKAPAN IDIOM’, Lisanan Arabiya: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 1.02 (2017), 145–61 <https://doi.org/10.32699/liar.v1i02.203>

Pbsi, Sarnia, ‘POLISEMI DALAM BAHASA MUNA’, JURNAL HUMANIKA, 3.15 (2017) <http://ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA/article/view/606> [accessed 23 April 2020]

Pratiwi, Heppy Atma, ‘Idioms in the National News Rubric Category of Education on Cnnindonesia. Com’, Pena Literasi, 1.1 (2018), 1–16

Rohbiah, Tatu Siti, ‘Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Inggris pada Istilah Ekonomi’, Buletin Al-Turas, 23.2 (2017), 319–35 <https://doi.org/10.15408/bat.v23i2.5790>

Salim, Latifah, ‘Sejarah Pertumbuha dan Perkembangan Bahasa Arab’, Diwan : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 3.1 (2017), 77–90 <https://doi.org/10.24252/diwan.v3i1.2928>

Sedyawati, Agustia, ‘IDIOM DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS (ANALISIS KONTRASTIF)’ (unpublished PhD Thesis, Universitas Negeri Semarang, 2017)

Suyanti, Suyanti, ‘PERIBAHASA YANG BERUNSUR NAMA BINATANG DALAM BAHASA INDONESIA’, Sintesis, 8.1 (2014), 51–59

Tiawaldi, Adit, and Muhbib Abdul Wahab, ‘PERKEMBANGAN BAHASA ARAB MODERN DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS DAN SEMANTIK PADA MAJALAH ALJAZEERA’, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan KebahasaAraban, 4.1 (2017), 1–19 <https://doi.org/10.15408/a.v4i1.5328>

 



[1] Latifah Salim, ‘Sejarah Pertumbuha dan Perkembangan Bahasa Arab’, Diwan : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 3.1 (2017), 77–90 <https://doi.org/10.24252/diwan.v3i1.2928>.

[2] Sahkholid Nasution, Pengantar Linguistik Bahasa Arab (Lisan Arabi, 2017). h. 37

[3] Akhyar Hanif, ‘Studi Terhadap Kosakata Bahasa Arab Dalam Bahasa Minangkabau’, Arabiyatuna : Jurnal Bahasa Arab, 1.2 (2017), 119 <https://doi.org/10.29240/jba.v1i2.174>.

[4] Adit Tiawaldi and Muhbib Abdul Wahab, ‘PERKEMBANGAN BAHASA ARAB MODERN DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS DAN SEMANTIK PADA MAJALAH ALJAZEERA’, Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan KebahasaAraban, 4.1 (2017), 1–19 <https://doi.org/10.15408/a.v4i1.5328>.

[5] Sarnia Pbsi, ‘POLISEMI DALAM BAHASA MUNA’, JURNAL HUMANIKA, 3.15 (2017) <http://ojs.uho.ac.id/index.php/HUMANIKA/article/view/606> [accessed 23 April 2020].

[6] Tatu Siti Rohbiah, ‘Perubahan Makna Kata Serapan Bahasa Arab dalam Bahasa Inggris pada Istilah Ekonomi’, Buletin Al-Turas, 23.2 (2017), 319–35 <https://doi.org/10.15408/bat.v23i2.5790>.

[7] Mohammad Kholison, ‘Semantik Bahasa Arab Tinjauan Historis Teoritik Dan Aplikatif’, Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016. h. 203-204

[8] Agustia Sedyawati, ‘IDIOM DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS (ANALISIS KONTRASTIF)’ (unpublished PhD Thesis, Universitas Negeri Semarang, 2017). h. 23

[9] AKBAR AKBAR, ‘ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM BAHASA KONJHO KECAMATAN SINJAI BARAT KABUPATEN SINJAI’, BAHASA DAN SASTRA, 5.1.

[10] Muthmainnah Muthmainnah, ‘KEMAMPUAN MENGGUNAKAN IDIOM DALAM KALIMAT PESERTA DIDIK SMP NEGERI 1 TUTALLU KABUPATEN POLEWALI MANDAR’, Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan, 4.1 (2016), 60–71 <https://doi.org/10.35329/fkip.v4i1.5>.

[11] Harlina Harlina, ‘Idiom Dalam Masyarakat Di Desa Pondok Tengah Kecamatan V Koto Kabupaten Muko-Muko Bengkulu Utara’ (unpublished skripsi, Universitas Negeri Padang, 2012) <http://repository.unp.ac.id/1998/> [accessed 23 April 2020].

[12] Afrita Monalisa, ‘IDIOM DALAM BAHASA DAYAK BEHE BALANGINT’, Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 6.10.

[13] Heppy Atma Pratiwi, ‘Idioms in the National News Rubric Category of Education on Cnnindonesia. Com’, Pena Literasi, 1.1 (2018), 1–16.

[14] Harlina. Idiom Dalam Masyarakat Di Desa Pondok……..h. 668

[15] Lilik Rochmad Nurcholisho, ‘FLEKSIBELITAS BAHASA ARAB DALAM MEMBENTUK UNGKAPAN IDIOM’, Lisanan Arabiya: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 1.02 (2017), 145–61 <https://doi.org/10.32699/liar.v1i02.203>.

[16] AKBAR. ANALISIS MAKNA PERIBAHASA DALAM BAHASA KONJHO…. h.6

[17] Sri Hartati, ‘Jenis, Makna, Dan Fungsi Peribahasa Maanyan (Type, Meaning, and Function of the Maanyan Proverb)’, JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP), 5.2 (2017), 255–273.

[18] Suyanti Suyanti, ‘PERIBAHASA YANG BERUNSUR NAMA BINATANG DALAM BAHASA INDONESIA’, Sintesis, 8.1 (2014), 51–59.

[19] Siti Mahwiyah, ‘Unsur-Unsur Budaya Dalam Amtsâl’Arabiyyah (Peribahasa Arab)’, Arabiyat: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Dan KebahasaAraban, 1.2 (2014), 237–252.


Komentar